Jurnal ATLM #2 "Robot Raksasa dan Kuli Laboratorium"
Pernahkah masuk ke dalam area laboratorium?
Bayangkan di dalamnya kalian akan menemukan work place
yang dipenuhi dengan beberapa alat berukuran besar hingga kecil. Ketika tahun
2015 saat saya menempuh studi Diploma 3, saya mengikuti praktik kerja lapangan di sebuah laboratorium RS rujukan
terbesar di Surabaya untuk pertama kalinya. Mungkin ketika itu saya masih lugu,
tidak berpengalaman apapun. Begitu melihat mesin-mesin besar bak robot raksasa
yang mengolah spesimen darah pasien, saya langsung tercengang. Saya dekati
robot raksasa itu, mengamati cara kerjanya. Pikir saya “ah, segala sesuatu di
jaman sekarang sangat dimudahkan. Bagaimana jika suatu hari nanti pekerjaan
ATLM di lab seluruhnya digantikan robot? Apakah kami tidak akan dibutuhkan
lagi?” Hal itu hinggap di kepala saya berlarut larut, kalau dibahasakan secara
masa kini sebut saja overthinking.
Hari-hari saya jalani di Surabaya dengan hectic karena itu
adalah kali pertama saya merasakan berada diantara riuhnya robot raksasa yang
menelan sampel-sampel darah dari pasien. Saya harus melalui praktik kerja
lapangan di tempat ini selama kurang lebih 1 bulan. Akankah saya kuat? Sepertinya
begitu. Tempat itu begitu menakjubkan bagi saya. Bak baru turun gunung, saya
merasa tertegun dan berkali kali terbengong bengong memikirkan satu hal.
“Secanggih canggihnya robot raksasa ini, siapakah yang
menciptakan mereka? Otaknya terbuat dari apa? Pernahkah si pencipta itu memakan
kentang goreng bertabur bubuk micin seperti apa yang sedang saya makan?”
Setelah rampung bergelut beberapa pekan dengan robot
raksasa, kini saya digilir untuk mencicipi ruangan yang berbeda 180o
dengan hari kemarin. Saya dicekoki beberapa serum pasien, dan sampel faeces
yang semuanya harus dikerjakan secara manual. Nah saya suka bagian ini. Mengerjakan
dengan tangan, dan melihat reaksi sampe dengan reagen secara kasat mata a.k.a
matameter. Mungkin tidak semua ATLM sependapat dengan saya namun bagi saya,
kebahagiaan dalam bekerja adalah mengerjakan sesuatu dengan racikan tangan
sendiri dan melihat reaksi yang terjadi secara langsung. Setiap hari saya
mendapat banyak sekali hal baru yang belum pernah saya kerjakan di laboratorium
kampus sebelumnya. Salah satunya pemeriksaan tifoid dengan test Tubex.
Hal yang baru bagi saya, bisa jadi hal yang lumrah bagi beberapa orang yang
berpengalaman. Sekalipun ATLM menjadi orang yang telah berpengalaman bertahun-tahun
dalam bidangnya, suatu keharusan untuk selalu ingin tetap belajar tentang update
pemeriksaan terbaru karena kedepannya uji laboratorium akan selalu mengalami
perubahan ke arah yang lebih modern.
Kemajuan yang signifikan terasa pada saat saya melakukan praktikum di tahun 2019 di laboratorium kampus ketika saya menempuh pendidikan lanjutan Diploma 4 di salah satu kampus swasta di Semarang. Untuk pertama kalinya saya menjajali teknik pemeriksaan sampel berbasis bio molekuler. Pemeriksaan dengan teknik PCR secara konvensional pun terasa amat rumit namun modern. Banyak istilah baru yang saya dengar untuk pertama kalinya contohnya "Thermus aquaticus". Bakteri yang berperan dalam ilmu biologi molekuler. Teknologi PCR memiliki beberapa tahapan yang salah satu tahapannya harus dilakukan secara manual yaitu proses ekstraksi. Proses pemurnian molekul suatu material hingga menjadi template DNA/RNA yang siap untuk di copy ke mesin fotocopy genetik atau dalam dunia kami disebut dengan thermocycler. Hal yang sangat saya syukuri dalam hidup saya adalah berkesempatan melanjutkan studi ke pulau seberang. Mengenal lebih lanjut tentang teknologi PCR ini serta banyak hal yang belum sempat saya cicipi pada masa saya menempuh Diploma 3. Teknologi PCR yang dibekali di semarang kini saya terapkan di tempat saya bekerja hingga tahun 2022 saat tulisan ini saya buat. Saya sangat optimis bahwa kedepan dan seterusnya ilmu pengetahuan dan teknologi akan selalu berkembang pesatnya seiring revolusi digitalisasi yang berputar sangat cepat. Satu hal yang saya rasakan dari masa PKL di 2015 hingga kini 2022. Walaupun peralatan kami di laboratorium terbilang canggih dengan robot raksasa dan teknik modern di dunia biologi molekuler, tetap saja tangan-tangan dan mata para ATLM masih sangat diperlukan. Janganlah berhenti belajar, janganlah menilai dirimu sudah diatas angin dengan jam terbang yang terbilang tinggi. Ketika kamu memilih untuk berhenti mencari tahu hal baru, akan ada banyak hal yang akan kamu lewatkan.

Comments
Post a Comment