Aku dan Tujuan
K ala itu kerumunan wisudawan dan wisudawati bergerombol menikmati momen yang membahagiakan dengan wajah-wajah yang sumringah pada hari itu. Bulan ke sepuluh tahun dua ribu enam belas. Beberapa diantara mereka tampak menikmati acara tanpa sedikitpun merasa khawatir tentang hari setelahnya. Yahh mungkin sisanya sebaliknya, tampak insecure walau dibalut dengan senyum lega karena kami sudah lulus dari perjuangan tiga tahun menjadi pengabdi Toga. Aku salah satunya. Tanganku tak hentinya berair hingga membahasi teks sambutan wisudawan/wisudawati yang harus aku bacakan di podium. Tidak, aku tidak grogi karena sambutan itu. Aku hanya memikirkan sebuah hal yang berkecamuk di pikiranku sedari subuh waktu itu. “Keesokan hari setelah hari ini akan menjadi sebuah momentum dimana kau tidak lagi menjadi mahasiswi” hanya kalimat itu yang memenuhi isi otakku saat itu. Benar, ketika itu aku sudah memiiki kegiatan ‘serabutan’ yang cukup padat. Tergabung menjadi salah satu volunteer di suatu NGO da...