PERNAHKAH CEK DARAH? KAMI LAH DALANG DIBALIKNYA
![]() |
Ketika masa kanak-kanak, tidak
hanya saya namun kebanyakan dari kita akan menjawab “jadi dokter” atau “jadi
polisi” ketika ditanya “apa cita-citamu?” pada masa itu. Dahulu, saya masih
ingat sekelebat kisah kecil saya versi mini yang begitu sumringah ketika
dibelikan mainan perlengkapan dokter cilik. Tentu saja semua teman yang
berkunjung ke rumah, saya ‘rawat’. Benar-benar menggelikan namun hal itu yang
membuat kedua orang tua saya memberi semangat ketika saya menyukai pelajaran
ilmu pengetahuan alam semasa sekolah dasar. Hal itu pula yang mendorong mereka
menyekolahkan saya hingga ke sekolah ilmu kesehatan. Walaupun program studi
yang saya ambil pada akhirnya tidak secara langsung mewajibkan untuk ‘merawat’
pasien. Saya bukan dokter, pun bukan seorang perawat, saya adalah Laboran.
Seorang Ahli Tenaga Laboratorium Medik (ATLM) atau di luar negeri biasa disebut
Medical Laboratory Technologist (MLT). Disini, saya seterusnya
akan menyebut kami sebagai ATLM.
Tidak banyak yang familiar
mengenai profesi yang saya jalani selepas lulus dari Jenjang Diploma Tiga
Program Studi Analis Kesehatan. Bahkan ketika kami, para ATLM sedang bertugas
Praktik Kerja Lapangan di beberapa Rumah Sakit pada masa itu, kami semua
dipanggil “suster”. Tidak salah memang, kami tidak mempermasalahkan sebutan
apapun untuk kami karena masyarakat juga pasti sulit untuk membedakan tenaga
kerja medis yang ada di Rumah Sakit dan menganggap kami semua yang berpakaian
serba putih itu seorang perawat. Seorang ATLM bertugas mengambil sampel darah
pasien. Mungkin di beberapa Rumah Sakit maupun Klinik menggunakan jasa perawat
juga karena kami pun harus memiliki kecakapan profesi dalam hal pengambilan
darah atau dalam bahasa medis kami sebut “Plebotomi”.
Setelah sampel darah kami peroleh
dari pasien, segera sampel tersebut kami lakukan uji di laboratorium. Namun tidak
sesederhana itu. Kami WAJIB melewati beberapa langkah terlebih dahulu
sebelum menuju tahap pengujian darah. Tahap ini kami sebut Tahap Pra
Analitik. Kami perlu memastikan bahwa sampel yang didapatkan tersebut layak
untuk diuji, volume sampel tersebut sesuai dengan permintaan pemeriksaan
laboratorium, keadaan sampel tersebut memenuhi persyaratan dari SOP (Standard
Operating Procedure) dari Laboratorium tempat kami bekerja, dan aspek yang
terpenting kami harus melakukan pengecekan ulang untuk memastikan sampel darah
pasien tidak tertukar. Hal ini kami sebut uji kelayakan sampel. Ketika sampel
telah berada pada keadaan layak uji, segera kami distribusikan ke laboratorium.
Di Laboratorium, sampel
didistribusikan ke dalam sub unit lab yang lebih mengkhusus berdasarkan
permintaan parameter pemeriksaan yang ada pada formulir pasien. Contohnya jika
dalam formulir pasien diminta memeriksa Darah Lengkap dan pemeriksaan gula
darah puasa, maka distribusinya ke sub lab Hematologi untuk pemeriksaan Darah
Lengkap sedangkan untuk pemeriksaan gula darah puasa, sampel yang diperoleh didistribusikan
ke sub lab Kimia Klinik. Tahap pengerjaan sampel di Laboratorium kami sebut Tahap
Analitik. Sebelum pengerjaan sampel pun kami juga harus memastikan beberapa
hal seperti kondisi alat yang akan digunakan harus sudah dalam keadaan prima, terkalibrasi
serta bahan kimia yang digunakan juga diuji kualitasnya dengan melakukan controlling
setiap hari dan mengawasi batas kadaluarsa bahan kimia untuk zat uji tersebut. Pada
tahap analitik, kami menempuh pengerjaan sampel dengan cara automatic atau
dengan bantuan alat maupun dengan cara non automatic atau dengan cara
manual dengan panduan Instruksi Kerja (IK) dari Laboratorium. Hasil pemeriksaan
laboratorium yang kami keluarkan pun dibagi menjadi dua macam yaitu hasil
kualitatif (berupa hasil positive/negative) dan kuantitatif (hasil berupa
angka).
Tahap selanjutnya adalah
mengeluarkan hasil Laboratorium. Nah, pada Tahap ini kami sebut dengan Tahap
Pasca Analitik. Hasil Laboratorium tidak secara gamblang langsung
dikeluarkan begitu saja. Masih ada hal yang harus dilewati yaitu proses
verifikasi dan proses validasi sebelum hasil tersebut diterima oleh pasien kami.
Proses verifikasi yang dimaksud mencakup crosscheck keseluruhan data
pasien mulai dari identitas hingga keterangan klinis pasien dengan hasil
laboratorium yang telah selesai kami kerjakan tersebut. Setelah dinyatakan
terverifikasi oleh ATLM, proses selanjutnya adalah proses akhir yaitu validasi
hasil yang berhak dilakukan oleh Dokter umum, Dokter Spesialis Patologi Klinik,
atau ATLM tertentu. Kini ATLM dengan gelar Sarjana Terapan (telah lulus jenjang
Diploma 4) dapat memvalidasi hasil Laboratorium dengan catatan bahwa yang diberikan
mandat tersebut telah teruji keterampilannya (senior) dan bersertifikasi kompeten.
Beberapa alur tersebut pun
akhirnya menghantarkan amplop hasil laboratorium ke tangan pasien-pasien kami.
Dear pasien, kami ingin yang terbaik untuk kalian. Setiap hasil laboratorium
yang keluar mempertaruhkan keprofesionalan kami dalam bekerja, setiap sampel
darah yang kami kerjakan mencerminkan betapa berisikonya pekerjaan kami. Berdampingan
setiap hari dengan sampel yang infeksius bukan sesuatu yang mudah untuk dilalui.
Karena hal itu pula kami sebagai ATLM tak lupa harus memagari pertahanan tubuh
kami dengan pencegahan vaksin penyakit menular tertentu. Menjadi ATLM itu tak
mudah, penuh dengan risiko kerja dan sedikit saja kesalahan yang kami lakukan
akan berdampak pada hasil pasien maupun kondisi intern laboratorium kami. Namun
saya bangga dengan menjadi apa yang saya pilih pada hari ini. Tidak semua orang
bisa melalui apa yang kami lalui, apa yang kami saksikan dibawah lensa mikroskop
bagaikan sesuatu yang magical. Tidak semua orang dapat membayangkan
seperti apa rupa sel darah, sel sperma, bakteri, dan mikroorganisme lainnya
namun kami para ATLM bahkan berjumpa dengan mereka hampir setiap hari. We proud,
literally so proud being a Medical Laboratory Technologist. Even though
it’s so stressful but so rewarding.
My Laborat Journey

Comments
Post a Comment