Aku dan Tujuan
Kala itu kerumunan
wisudawan dan wisudawati bergerombol menikmati momen yang membahagiakan dengan
wajah-wajah yang sumringah pada hari itu. Bulan ke sepuluh tahun dua ribu enam
belas. Beberapa diantara mereka tampak menikmati acara tanpa sedikitpun merasa
khawatir tentang hari setelahnya. Yahh mungkin sisanya sebaliknya, tampak
insecure walau dibalut dengan senyum lega karena kami sudah lulus dari
perjuangan tiga tahun menjadi pengabdi Toga. Aku salah satunya. Tanganku tak
hentinya berair hingga membahasi teks sambutan wisudawan/wisudawati yang harus
aku bacakan di podium. Tidak, aku tidak grogi karena sambutan itu. Aku hanya
memikirkan sebuah hal yang berkecamuk di pikiranku sedari subuh waktu itu.
“Keesokan hari setelah hari ini akan menjadi sebuah momentum dimana kau tidak
lagi menjadi mahasiswi” hanya kalimat itu yang memenuhi isi otakku saat itu.
Benar, ketika itu aku
sudah memiiki kegiatan ‘serabutan’ yang cukup padat. Tergabung menjadi salah
satu volunteer di suatu NGO dan merealisasikan beberapa project dengan sasaran
anak-anak SD, menjadi asisten dosen yang sedang penelitian di laboratorium,
memburu data responden dari penelitian dosen lainnya sekaligus merekap data
mereka (waktu itu respondennya anak SMP dan bersebelahan dengan SD jadi
sekalian menjalankan project dari NGO juga di waktu yang bersamaan).
Benar-benar pekerjaan yang menyenangkan. Kira-kira 3 bulan lamanya aku kerja
‘serabutan’ hingga sebuah perusahaan jasa berupa laboratorium swasta di kota
kelahiranku menelpon untuk mengundangku mengikuti tes wawancara. Aku
melakukanya. Kuikuti setiap tes akademik, wawancara, tes kesehatan hingga
psikotes. Pada akhirnya, awal bulan februari menjadi kado manis karena aku
diterima bekerja di laboratorium itu. Aku menjadi staff analis laboratorium di
klinik tersebut selama 2 tahun hingga pada bulan Juni 2019 aku memutuskan untuk
resign dari Laboratorium pertama yang menjadi tempatku menimba ilmu dan
pengalaman hingga mengetahui seluk beluk dunia Laboratorium. Banyak orang
mempertanyakan mengapa aku pergi dari tempat itu. Beberapa praduga pun
terlontar dari teman seprofesiku. Dari beberapa pertanyaan, top questionnya
adalah : “apakah alasannya karena gaji?” “lingkungan kerjamu gak nyaman?”
hingga “apakah atasan bersikap tidak baik terhadapmu?”. Aku hanya mengangkat
bahuku pelan, tidak membenarkan dan tidak menyalahkan pula. Alasan aku resign dan
memilih untuk melanjutkan study ke jenjang Diploma 4 (Setingkat S1) karena
diriku sendiri. Alasannya yaaah.. untuk diriku sendiri. Suatu keyakinan mendorong
aku untuk semakin menggali ilmu yang ternyata belum banyak aku peroleh di masa
Diploma 3 dahulu. Tidak sedikit pula yang ‘nyinyir’ dengan berkata untuk apa
sekolah lagi toh saat ini buat kerja di lab, Diploma 3 juga bisa diterima kan…
atau memangnya jenjang karirmu akan meningkat dan menghasilkan income
banyak setelah kamu lanjut Diploma 4?
Karakteristik orang berikut dengan mimpi
dan harapannya itu berbeda-beda. Akupun telah mengetahui sedikit tentang IKIGAI
dalam konsep ilmu kehidupan di Jepang. Intinya IKIGAI itu adalah alasan untuk
hidup dengan harmonisasi 4 hal yang harus kamu miliki untuk mencapai
kebahagiaan dan balance in life. Hal yang pertama yaitu cintai
sesuatu yang sedang kamu lakukan atau pekerjaanmu dengan sungguh-sungguh. Jika
kamu mencintai apa yang kamu lakukan sekarang pikirkan apakah kamu sudah expert
atau ahli di dalam pekerjaan itu. Nah ini yang ada di dalam aspek kedua. Ketika
kamu hanya ingin menjadi ‘biasa’, kamu tidak akan bisa menguasai apa yang kamu
kerjakan atau logikanya adalah ketika kamu tidak expert atau kurang expert,
kemungkinan untuk dipercayakan sebuah amanat atau tanggung jawab oleh atasan pun
akan semakin sedikit peluangnya. Jadi ingin expert atau biasa-biasa
saja? Aspek ketiga adalah apakah hal yang kamu kerjakan adalah sesuatu yang bermanfaat
bagi orang lain atau dunia sekalipun? Ketika hal yang kita lakukan tidak ada
manfaatnya sama sekali, sia-sia saja rasanya apalagi malah memiliki pengaruh
buruk untuk diri dan orang lain. Kamupun sudah sangat mencintai pekerjaanmu,
karena hal itu memiliki manfaat dan dampak besar terhadap orang lain ditambah
kamu sangat ahli atau seseorang yang expert di bidangnya. Aspek terakhir yaitu
bagaimana kamu dibayar dari suatu pekerjaan tersebut. Jadi
artinya sesuatu atau pekerjaan yang kamu lakukan mendatangkan income atau
uang untukmu. Singkatnya, jika keempat hal itu kamu miliki, kamu akan menemukan
IKIGAI mu sendiri. Jadi jangan berhenti berkembang untuk tujuan hidup yang
lebih baik. Kita semua berusaha. Kalian, mereka dan aku. Hal ini yang membuat
aku tergerak karena aku yakin. Ketika kita sungguh-sungguh ingin berkembang dan
terus belajar, maka apa yang kita dapat nanti akan sebanding dengan perjuangan
kita. Ini hanya sedikit gambaran mengenai IKIGAI dan kalau ingin mencari tahu
lebih lanjut, sekarangpun banyak startup atau youtube channel
yang membahas tentang IKIGAI ini.
![]() |
| (Gambar dari Google) |
Hari ini mungkin aku
masih menjadi seorang mahasiswi lanjutan, sedangkan teman-teman seumuranku telah
mencapai hal yang besar dalam hidupnya. Tidak apa-apa. Semua orang memiliki
timeline dalam alur ceritanya masing-masing. Saat ini aku hanya mencoba focus dengan
apa yang aku ingin kejar, yang responsible untuk aku lakukan dan bermanfaat
bagi orang lain. Ketika kita memberikan sesuatu yang bernilai, maka rejeki pun
akan mengikuti. Tujuan hidup seseorang pun tidak bisa kita kotak-kotakan menjadi
satu atau dua hal saja. Banyak teori lain tentang tujuan hidup manusia. Sekarang
bagaimana cara kamu mengembangkan diri, melakukan kesalahan dan mengevaluasi
diri dari kesalahan yang kamu lakukan. Aku yakin kita semua akan mencapai itu
semua as long as we keep moving and don’t ever underestimate ourself because
we are precious. We deserve happiness.
#3 My Laborat Journey

Comments
Post a Comment