Jurnal ATLM #1 "Phlebotomist"



Dokumentasi praktikum
Satu hari selepas kelulusan SMA…
Pada akhirnya kartu AS yang aku pegang kalah oleh Joker.
Saat itu juga aku tak memiliki harapan lain selain kalah dan meratapi karena aku tak lebih hebat, aku tak pantas dan hanya karena kekurangan fisik yang aku miliki, kartu AS ini tak ada artinya. Lupakan Kartu AS. Aku membakar seluruh brosur dan kalimat motivasi yang selama 3 tahun ku tata apik di buku harianku. Hari itu adalah kiamat kecil bagi seorang Ika. Aku tak lolos di jurusan yang aku impikan karena kekurangan 2 cm tak dapat ku penuhi. Lagipula siapa yang mau mendonorkan tulangnya? Tidak akan mungkin bukan?
Sayang sekali Ika kecil yang malang dulu serapuh itu.
Permainan kedua kembali bergulir. Kini dengan kartu yang berbeda. 
Aku diterima di jurusan yang asing bagiku. Jurusan yang kini aku cintai. Profesiku.

Mungkin tak banyak yang mengetahui apa itu Medical Laboratory Technology atau Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM). Panggilan akrabnya ‘Analis Kesehatan’. 

Selepas mengenyam pendidikan 3 tahun di perguruan tinggi, aku dilepas oleh kampus yang telah membekaliku dengan keterampilan akademik dan praktikal untuk bekerja. Peluang kerja kami di Rumah Sakit Negeri maupun Swasta, laboratorium klinik baik pratama hingga klinik utama, laboratorium pabrik makanan minuman (sebagai Quality Control), hingga di bagian Quality Control pabrik farmasi. Opsi lainnya kami dapat terjun di bidang akademisi dengan menjadi pengajar atau berkecimpung di dunia research and development di suatu instansi atau perusahaan berbasis bidang kesehatan.

Awal mulanya, program jurusan Analis Kesehatan/ATLM hanya sampai Diploma 3. Namun sekarang bahkan ada program Diploma 4 (setara S1) dan ada S2 nya (mantep gak tuh?). Mengapa D4? Karena mostly kami lebih banyak berkecimpung pada praktik lapangan namun teori pun harus tetap selaras karena keduanya tidak boleh tumpang tindih. Saat ini aku sedang melanjutkan pendidikan ke jenjang Diploma 4 di salah satu kampus di Semarang.

Dear all, jika kalian ingin terjun ke dunia Labotarorium seperti aku…
Make sure you have an analytical thinking, observer, high curiosity dan komunikasi yang baik karena semua kemampuan itu akan sangat membantu di jurusan ini. Urusan skill, tentu saja itu sebuah keharusan dan berita baiknya, skill bisa kamu asah saat berada di perkuliahan dengan catatan kamu benar-benar serius dan jangan suka membolos mata kuliah. Please note it. Bersyukur sekali pada awal perkuliahan ketika D3, jurusan ini fit on me. Aku bisa mengikuti step by step mata kuliahnya. Walaupun memang, skill mengambil darahku pada awalnya payah namun segala sesuatu dapat dipelajari bukan? Awalnya goals-ku adalah harus bisa lancar mengambil darah tanpa gemetar ketika ujian praktik nanti. Bagaimana caraku belajar mengambil darah dalam waktu singkat?
Rahasianya adalah… More more and more practice.

Kami memang dibekali dengan mata kuliah basic pengambilan darah, atau nama lainnya Phlebotomy. Awal mendengarnya memang agak asing. Namun di mata kuliah ini, kami dididik untuk menjadi vampire alias pengambil darah professional dan handal. Praktikum pun tiba dan saat itu pertama kali aku mendapat kesempatan untuk mengambil darah sebuah lengan palsu (phantom). Lengan itu didesain sedemikian rupa dengan selang-selang berisi cairan didalamnya layaknya pembuluh darah sungguhan. Baik disini aku mulai dag dig dug tidak karuan antara nervous dan excited karena ini akan menjadi kesan pertamaku dalam percobaan mengambil darah. Yaaa dengan patung dulu tentunya.

Satu demi satu mahasiswa di kelas mulai mencobanya. Waktu itu kebetulan di kelasku mayoritas berasal dari SMK Kesehatan yang khusus sejak dini dididik untuk menjadi seorang ATLM handal. Jadi bisa dibayangkan mereka sudah jago semua mengambil darah manusia dan dihadapkan dengan patung seperti yang didepan, mungkin mereka tidak begitu ambil pusing. Berbeda dengan aku yang masih saja overthink soal kemiringan sudut jarum suntik. Rasanya jantung seakan melompat dari rel ketika dosen memanggil namaku. “Tenang Ika, kamu bisa. Pointnya adalah sudut kemiringan jarum” gumamku menghibur diri.

Jemariku dengan lugas meraba permukaan kulit phantom. Untuk menemukan titik lokasi penusukan yaitu tepat di pembuluh darah vena, kami harus meraba permukaan kulit pasien terlebih dahulu sehingga akan menemukan titik yang tepat untuk ditusuk. “Deg!” aku tidak bisa menemukan titik mana yang harus aku tusuk. “Gawat” gumamku mulai panik. Pada awalnya aku berpikir bahwa ini akan mudah tapi tetooot… aku salah. Ketika jarum suntik menembus kulit phantom, aku menunggu keluarnya sedikit darah dari perbatasan pangkal jarum dan spuit namun darah itu tak kunjung keluar juga. “ayolaaaah” aku merengek semakin tak karuan. Sepertinya dosen kami memahami titik kesalahanku dimana. Yaaah akhirnya percobaan pengambilan darah pertamaku dihentikan. AKU GAGAL MENGAMBIL SAMPEL DARAH SEBUAH PATUNG. Such a shame? Yes.

Ketika itu aku berpikir, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa lulus ujian dengan skill yang payah begini? Saat itu pula kebetulan salah satu teman lulusan SMK menawarkan suatu ide brilliant. Kami pun membeli satu box jarum suntik isi 100 pcs yang kami bagikan ke 10 orang. Jadi masing-masing anak memperoleh 10 jarum suntik. Kamar kost-ku pun digunakan sebagai tempat latihan kami mengambil darah. Kalau dipergoki orang lain mungkin dia akan salah paham menganggap kami sedang berpesta narkoba mengingat jarum suntik yang bertebaran disekitar kami. Kami saling tusuk menusuk lengan satu sama lain. Waktu itu salah satu teman yang sudah mahir, kurekrut menjadi mentorku. Beruntung sekali aku bisa dikelilingi kawan yang mau berbagi ilmu seperti mereka. Skill-ku berkembang seiring 2 minggu berlalu. Ujian praktik Phlebotomy-ku sukses. AKU BERHASIL MENGAMBIL SAMPEL DARAH SEORANG MANUSIA. Akhirnya suatu pencapaian bagi ATLM pemula seperti aku.

Selain skill, hal krusial yang dibutuhkan selanjutnya adalah komunikasi.
Why should we have a good communication? Exactly…. Karena kami akan berhadapan langsung dengan pasien. Kami bertugas mengambil sampel darah pasien dan aktivitas tersebut tentu saja membutuhkan adanya komunikasi dengan baik kan kepada pasien.
Kemudian hal yang sering jadi pertanyaan adalah kapan pasien perlu diambil darah?
Well, apakah kalian pernah demam? Setelah 3 hari jika suhu tubuh kalian tidak kunjung turun, dokter akan memberikan lembar pengantar test laboratorium. Mengapa? Untuk memastikan penyebab demam dan sakitmu itu. Apakah penyebabnya virus, bakteri atau patah hati (?)
Deskripsi diatas merupakan salah satu contok keadaan ketika kondisi sakit. Apakah bisa seseorang diambil sampel darah ketika sehat sekalipun? Tentu saja bisa jika kamu ingin melakukan Medical Check Up. Tujuannya untuk mengetahui kondisi tubuh dan keadaan medis seseorang.
 Kamilah sosok itu, seorang Phlebotomist yang mengucapkan salam kepada kalian yang sehat maupun yang sedang tidak baik-baik saja. Kamilah yang meraih lengan kalian dengan hati-hati, memasangkan tourniquette pembendung darah, mengusap lipatan siku kalian dengan lembut menggunakan kapas alkohol. Kami selalu memastikan tidak akan ada kontaminan apapun yang mengganggu proses pemeriksaan nantinya. Kami selalu memastikan jarum yang kami sediakan adalah jarum suntik baru dan eksklusif untuk kalian. Ketahuilah satu hal, kami selalu ingin pasien kami nyaman dengan harapan kami dapat meminimalisir rasa sakit pada saat pengambilan darah. Jadi apabila ada diantara pasien yang takut jarum, coba untuk tenang terlebih dahulu pejamkan mata sementara hingga kami lebih mudah mendapatkan sampel darah tentunya dengan minim rasa sakit.
Tidak lupa kami akan selalu mengucapkan terimakasih karena pasien sudah sangat kooperatif saat kami layani. Semoga lekas sembuh. Selanjutnya sampel itu akan kami bawa ke medan tempur kami. Laboratorium.

Dear pasien-pasien kami, terimakasih telah bersabar…
Nantikan peperangan kami di medan tempur pada Jurnal ATLM #2


Comments

Popular posts from this blog

Jurnal ATLM #2 "Robot Raksasa dan Kuli Laboratorium"